Shape of my heart
.webp)
Kadang kita melihat masa lalu dan merasa sedikit malu dengan versi diri kita yang dulu.
Too loud. Too insecure. Too needy.
Atau mungkin… terlalu berusaha menjadi seseorang yang orang lain inginkan.
Dulu kita menyembunyikan perasaan sendiri.
Dulu kita memainkan peran supaya tetap diterima.
Trying so hard just to belong somewhere.
I played my part, kept you in the dark.
Tapi sering kali itu bukan karena kita ingin berpura-pura.
Maybe… we just didn’t really know who we were at that time.
Dalam psikologi humanistik, Carl Rogers pernah menjelaskan tentang Conditions of Worth keadaan ketika seseorang merasa dirinya harus menjadi “sesuatu” agar bisa diterima, dicintai, atau dianggap cukup oleh orang lain.
Dan tanpa sadar, banyak dari kita tumbuh dengan memainkan peran tertentu.
Becoming the version people could accept, not always the version that truly felt like us.
Sampai akhirnya hidup mengajarkan sesuatu yang sederhana, tapi sulit dilakukan:
Menerima diri sendiri apa adanya.
Because real growth doesn’t start from perfection.
It starts from acceptance.
Carol Dweck, lewat konsep Growth Mindset, menjelaskan bahwa manusia selalu bisa berkembang melalui proses belajar, termasuk dari kesalahan, kegagalan, dan versi diri lama yang dulu masih bingung mencari tempatnya.
Jadi mungkin…
Versi dirimu yang dulu tidak sepenuhnya salah.
You were just trying to survive.
Trying to understand yourself.
Trying to find where your heart truly belongs.
Maybe all this time,
you were searching for “The Shape of My Heart” within yourself.
Dan kabar baiknya…
Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadi lebih jujur pada diri sendiri.
Tidak ada kata terlambat untuk berhenti memainkan peran yang melelahkan.
Today, you are allowed to be real. To be softer. To be honest. To simply be yourself.
Now I’m kinda curious…
