Dini Rahman
/Home/Blog/MASYARAKAT BARU

MASYARAKAT BARU

21 October 2026
•
Dini Rahman

MASYARAKAT BARU

Kemarin, gue berkesempatan hadir di acara perayaan tiga tahun Malaka Project sekaligus launching Kampus Malaka dari @malakaproject.id.

Acaranya menghadirkan banyak gagasan menarik dari orang-orang di balik Malaka. Ada @sabdaps dengan Madilog dan fundamental berpikirnya, @dr.tirta dengan edukasi joss-jissnya sekaligus monolog tentang bagaimana tetap berpikir jernih di tengah dunia yang semakin blur. Ada juga @caniacitta dan @abigailimuria yang memaparkan perjalanan Malaka selama tiga tahun terakhir, termasuk berbagai inisiatif literasi melalui buku-buku di Malaka Books. And of course, @irwandiferry dengan karismanya dan gagasan besar yang ingin dibawa Malaka ke tahap berikutnya.

But beyond all the names and the excitement, there's something bigger that caught my attention.

The idea of learning how to think, not just what to think.

Kita hidup di zaman ketika informasi bisa diakses siapa saja. Mau belajar apa pun, tinggal buka YouTube, baca artikel, atau dengarkan podcast. Tapi di tengah banjir informasi ini, memahami sebuah persoalan justru nggak selalu menjadi lebih mudah.

Everyone has an opinion. Everyone wants to be heard. But how many of us actually take the time to understand?

Kadang kita terlalu sibuk mencari pembenaran sampai lupa mempertanyakan apa yang kita yakini. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu mudah menghakimi, dan terlalu nyaman dengan informasi yang sesuai dengan cara pandang kita sendiri.

Buat gue, pendidikan seharusnya nggak berhenti pada gelar, nilai, atau seberapa banyak hal yang kita tahu. Lebih dari itu, pendidikan perlu membantu kita memahami realitas, berpikir secara logis, dan punya keberanian untuk mengubah pandangan ketika berhadapan dengan fakta yang berbeda.

And that's what makes this initiative interesting to me.

Di tengah berbagai keresahan tentang ekonomi, pemerintahan, dan masa depan anak muda, kita butuh lebih banyak ruang belajar yang nggak cuma memberikan jawaban, tetapi juga mengajarkan kita bagaimana cara menemukan dan menguji jawaban itu sendiri.

Gue melihat launching Kampus Malaka sebagai upaya untuk membawa gagasan tersebut ke ruang yang lebih konkret. Dari yang sebelumnya dikenal lewat konten dan diskusi digital, sekarang ada langkah untuk membangun ekosistem belajar yang lebih terarah.

Tentu, gue juga penasaran akan sejauh mana Kampus Malaka bisa berkembang ke depannya. Karena pada akhirnya, gagasan yang bagus perlu dibuktikan lewat proses, kualitas pendidikan, dan dampak nyata yang dihasilkan.

Tapi gue mengapresiasi langkah ini. Setidaknya, ada upaya untuk menjawab keresahan tentang pendidikan dan cara kita memahami dunia, bukan sekadar membicarakannya.

Buat gue, Masyarakat Baru bukan tentang menjadi lebih pintar dari orang lain. Tapi tentang bagaimana kita bisa menjadi manusia yang lebih terbuka, lebih rasional, lebih empatik, dan lebih bertanggung jawab atas apa yang kita pikirkan maupun lakukan.

We don't just need more people who talk about change. We need people who understand the problems and are willing to do something about them.

Thank you & congratulations, @malakaproject.id.

Semoga apa yang dimulai hari ini bisa tumbuh lebih jauh dari sekadar gagasan, menjadi ruang belajar yang benar-benar relevan dan membawa dampak bagi banyak orang.

More than a campus, this is a movement.

Menuju Kampus Malaka 🚀