Dini Rahman
/Home/Blog/Kemajuan Peradaban, atau Sekadar Kehidupan yang Semakin Cepat?

Kemajuan Peradaban, atau Sekadar Kehidupan yang Semakin Cepat?

29 October 2026
•
Dini Rahman

Kemajuan Peradaban, atau Sekadar Kehidupan yang Semakin Cepat?

Ada satu pertanyaan yang belakangan ini sering muncul di kepala gua: zaman sekarang ini sebenarnya kemajuan peradaban, atau justru kemunduran?

Teknologi jelas maju. Tapi coba bayangin orang zaman dulu. Mereka bertani, beternak, hidup dari tanah sendiri, dan itu sudah cukup buat mereka. Hidupnya nggak serumit sekarang. Gua sadar hidup seperti itu juga nggak selalu mudah, jadi gua nggak mau meromantisasinya. Tapi ada yang janggal kalau dibandingkan dengan hari ini.

Kita hidup dengan segala kemudahan, tapi bergantung banget pada sistem yang nggak kita pahami. Semuanya serba gampang, tapi anehnya hidup justru terasa lebih berat. Orang makin jalan sendiri-sendiri, kebersamaan makin tipis. Gua nggak yakin itu karena manusianya makin egois. Mungkin hidup sekarang memang bikin kita terlalu capek buat sekadar mempertahankan diri sendiri, apalagi memikirkan orang lain.

Hal lain yang terasa adalah jomplangnya kesempatan. Hidup di kota besar dan di kampung itu beda jauh. Pendidikan masih jadi pekerjaan rumah yang besar, dan kebijakan yang ada sering terasa nggak menyentuh akar masalahnya. Orang seharusnya nggak perlu menghadapi hambatan tambahan cuma untuk bisa belajar. Gua juga nggak mau menjadikan latar belakang sebagai alasan untuk berhenti melangkah. Dua-duanya bisa benar sekaligus.

Di tengah semua itu, ada rasa takut yang sulit gua jelaskan.

Gua orang kampung yang lagi menyelam ke dunia teknologi sebagai developer, dengan pendidikan dan sumber daya yang jauh dari sempurna. Gua bersyukur karena teknologi membuka jalan buat belajar. Tapi gua juga masih mencari arah hidup sendiri sambil memikirkan keluarga. Mungkin takutnya datang dari situ: pengin berkembang, tapi belum tahu mau dibawa ke mana.

Dan gua mulai sadar, mungkin gua nggak perlu buru-buru punya jawabannya. Pertanyaan yang lebih penting bukan "gimana caranya sukses menurut standar orang lain", tapi "hidup seperti apa yang sebenarnya cukup buat gua". Karena kalau standarnya terus mengikuti orang lain, kita bisa seumur hidup mengejar garis finis yang nggak pernah ada.

Mungkin gua nggak perlu menolak dunia modern untuk bisa hidup lebih sederhana. Gua cuma perlu lebih sadar, bagian mana dari kemajuan yang mau gua pakai, dan bagian mana yang nggak perlu gua ikuti.

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin belum butuh jawaban yang sempurna sekarang. Gua cukup mulai membangun hidup yang pelan-pelan memungkinkan gua menjawabnya.