Dini Rahman
/Home/Blog/Hidup Bukan Balapan: Catatan tentang Kerja, Bahagia, dan Berdamai dengan Realita

Hidup Bukan Balapan: Catatan tentang Kerja, Bahagia, dan Berdamai dengan Realita

20 February 2026
Dini Rahman

Hidup Bukan Balapan: Catatan tentang Kerja, Bahagia, dan Berdamai dengan Realita

Pernah nggak sih kamu merasa burnout, capek dengan rutinitas kerja dari pagi sampai sore, atau sering overthinking sambil bertanya ke diri sendiri, “Kapan ya gue bisa benar-benar bahagia?”

Kalau pernah, tenang. Kamu nggak sendirian.

Saya baru saja mendengarkan podcast yang cukup “daging” bersama Pak Junanto, atau yang akrab dipanggil Pak Ijun. Beliau adalah seorang penulis sekaligus profesional yang sudah 30 tahun berkarier di dunia kantoran, dan juga banyak mendalami ilmu filsafat.

Dari pengalaman panjang beliau, ada banyak insight menarik yang cukup relate dengan kehidupan kita hari ini, terutama untuk Gen Z dan milenial yang sedang berjuang di dunia kerja.

Berikut beberapa hal yang menurut saya penting untuk direnungkan.


1. Jebakan Hidup Instan dan Overthinking

Kita hidup di zaman yang serba cepat.

Lapar? Tinggal pesan lewat aplikasi.
Mau dengar lagu lama? Tinggal cari, langsung ketemu.
Butuh hiburan? Tinggal scroll media sosial.

Teknologi memang memudahkan hidup kita. Tapi di sisi lain, kemudahan itu juga bisa membuat daya tahan mental kita jadi lebih lemah ketika harus menghadapi proses hidup yang panjang.

Kita jadi terbiasa ingin semuanya cepat. Padahal, hal-hal berharga dalam hidup hampir selalu membutuhkan waktu.

Selain itu, ada satu kebiasaan yang sering muncul di generasi sekarang: overthinking.

Belum mencoba sesuatu, kita sudah memberi label ke diri sendiri.

Misalnya:

“Gue introvert, jadi nggak cocok ketemu banyak orang.”

“Gue nggak bisa ngomong di depan umum.”

“Gue memang bukan tipe orang yang bisa berkembang di kantor.”

Padahal, bisa jadi kita belum benar-benar mencoba. Bisa jadi kita hanya terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tentang diri sendiri.

Hidup yang baik tidak dibangun dalam semalam. Karier, kemampuan, relasi, dan kedewasaan semuanya butuh proses.


2. Bahagia Itu Berbeda dengan Sekadar Healing

Sering kali kita berpikir:

“Saya akan bahagia kalau gaji naik.”

“Saya akan bahagia kalau punya atasan yang enak.”

“Saya akan bahagia kalau kerja di tempat yang lebih nyaman.”

Sekilas terdengar wajar. Tapi kalau bahagia selalu kita gantungkan pada kondisi tertentu, hidup bisa terasa melelahkan. Karena ketika ekspektasi itu tidak tercapai, kita jadi mudah kecewa.

Di sini penting untuk membedakan antara happiness dan pleasure.

Pleasure adalah kenikmatan sesaat. Misalnya makan enak, liburan, nongkrong di kafe, belanja barang baru, atau pergi healing ke pantai.

Itu semua menyenangkan, tapi sifatnya sementara.

Sementara happiness atau kebahagiaan punya makna yang lebih dalam. Kebahagiaan bukan sekadar kondisi ketika semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Kebahagiaan lebih dekat dengan kemampuan untuk mengelola diri, menerima realita, dan tetap tenang di tengah keadaan yang tidak selalu ideal.

Dalam pandangan filsafat, Plato pernah membahas bahwa manusia bisa hidup lebih baik ketika akal mampu mengendalikan hasrat. Artinya, kita tidak terus-menerus dikendalikan oleh keinginan, ambisi, atau rasa iri terhadap hidup orang lain.

Sedangkan Aristoteles melihat kebahagiaan sebagai kondisi hidup yang dijalani dengan baik, bukan sekadar perasaan senang sesaat.

Jadi, bahagia bukan selalu tentang mendapatkan semua yang kita mau. Kadang, bahagia justru lahir ketika kita mampu mengendalikan diri dan berdamai dengan keadaan.


3. Miskonsepsi Passion dan Jangan Jadi Karyawan “NPC”

Kita sering mendengar kalimat:

“Kejar passion kamu.”

Tapi menariknya, kata passion berasal dari bahasa Latin passio, yang berarti penderitaan.

Artinya, kalau kita bilang punya passion di suatu bidang, kita juga harus siap menghadapi bagian tidak enaknya. Siap capek, siap belajar, siap gagal, dan siap menjalani proses panjangnya.

Passion bukan cuma tentang melakukan hal yang kita suka. Passion juga tentang tetap bertahan ketika hal yang kita suka mulai terasa berat.

Dalam dunia kerja, kadang kita merasa atasan memberi terlalu banyak tugas. Rasanya seperti sedang “diperas”. Tapi bisa jadi, tekanan itu justru menjadi cara untuk mengeluarkan potensi terbaik yang selama ini belum muncul.

Tentu bukan berarti semua tekanan kerja itu sehat. Tapi tidak semua ketidaknyamanan berarti buruk. Ada ketidaknyamanan yang memang diperlukan untuk bertumbuh.

Karena itu, di tempat kerja jangan hanya menjadi karyawan “NPC” atau Non-Playable Character.

Maksudnya, jangan hanya hadir, duduk, bekerja sekadarnya, lalu pulang tanpa pernah menunjukkan perkembangan.

Di dunia kerja, kemampuan memang penting. Tapi inisiatif, sikap positif, dan kemauan untuk terlihat aktif juga punya peran besar.

Kerja keras itu bagus. Tapi kalau kerja keras tidak pernah terlihat, tidak pernah dikomunikasikan, dan tidak pernah disertai inisiatif, orang lain bisa saja tidak menyadari kontribusi kita.


4. Amor Fati dan Cara Santai Menghadapi Haters

Dalam proses bertumbuh, apalagi ketika karier mulai berkembang, pasti akan ada orang yang tidak suka.

Itu hal yang wajar.

Karena cara paling mudah untuk tidak punya haters adalah dengan tidak melakukan apa-apa, tidak berkembang, dan tidak menjadi siapa-siapa.

Biasanya, orang yang nyinyir terhadap proses orang lain sedang membawa keresahannya sendiri. Bisa karena insecure, takut tertinggal, atau tidak nyaman melihat orang lain berubah menjadi lebih baik.

Jadi, tidak semua komentar negatif perlu dimasukkan ke hati.

Selain itu, dalam hidup kita juga sering merasa seperti terjebak dalam rutinitas yang berulang:

Bangun.
Kerja.
Pulang.
Tidur.
Besoknya begitu lagi.

Kadang rasanya seperti hidup hanya berputar di tempat yang sama.

Di sinilah konsep Amor Fati dari Nietzsche menjadi menarik. Amor Fati berarti mencintai takdir. Bukan sekadar pasrah, tapi berani menerima realita hidup, termasuk bagian yang pahit, melelahkan, dan tidak sesuai harapan.

Bukan berarti kita berhenti berusaha. Justru sebaliknya, kita menerima kenyataan agar bisa melangkah dengan lebih jernih.

Ketika sedang sumpek, cobalah mengambil helicopter view. Maksudnya, ambil jarak sejenak dari masalah. Jangan langsung bereaksi saat emosi sedang tinggi. Lihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas.

Kadang masalah terasa besar bukan karena benar-benar besar, tapi karena kita melihatnya terlalu dekat.


5. Toxic Advice yang Sebaiknya Tidak Ditelan Mentah-Mentah

Ada beberapa nasihat motivasi yang sering terdengar positif, tapi sebenarnya bisa menjadi toxic kalau tidak dipahami dengan tepat.

“Kalau orang lain bisa, kamu pasti bisa.”

Kalimat ini terdengar menyemangati. Tapi dalam beberapa situasi, kalimat ini juga bisa memberi tekanan yang tidak sehat.

Faktanya, setiap orang punya latar belakang, kemampuan, kesempatan, dan jalur hidup yang berbeda.

Kalau orang lain bisa melakukan sesuatu, bukan berarti kita harus memaksakan diri untuk menjadi sama seperti dia.

Lebih baik fokus pada pertanyaan:

“Apa kekuatan saya?”

“Apa yang bisa saya kembangkan?”

“Versi terbaik diri saya itu seperti apa?”

Karena hidup bukan tentang menjadi sama seperti orang lain, tapi tentang bertumbuh sesuai jalur kita sendiri.

“Di balik kegagalan pasti ada kesuksesan.”

Kalimat ini juga sering kita dengar. Tapi kenyataannya, setelah gagal, bisa saja kita bertemu kegagalan lain.

Dan itu normal.

Kegagalan tidak selalu langsung membawa kita ke kesuksesan. Tapi kegagalan hampir selalu membawa pelajaran, kalau kita mau belajar darinya.

Jadi, mungkin kalimat yang lebih tepat adalah:

“Di balik kegagalan, ada pelajaran.”

Karena dari pelajaran itulah kita bisa memperbaiki langkah, membangun mental yang lebih kuat, dan mencoba lagi dengan cara yang lebih matang.

Tidak apa-apa merasa sedih ketika gagal. Tidak apa-apa merasa kecewa. Tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja.

Yang penting, jangan berhenti belajar dari prosesnya.


Penutup

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan.

Kita tidak harus selalu membandingkan timeline hidup kita dengan orang lain. Apalagi dengan apa yang terlihat di media sosial, yang sering kali hanya menampilkan bagian terbaik dari hidup seseorang.

Setiap orang punya jalannya masing-masing.

Ada yang cepat menemukan kariernya. Ada yang harus mencoba banyak hal dulu. Ada yang terlihat sukses lebih awal. Ada juga yang baru menemukan arahnya setelah melewati banyak kegagalan.

Dan itu tidak apa-apa.

Yang penting, kita tetap berjalan, tetap belajar, dan tetap menjaga diri agar tidak kehilangan arah.

Kurangi terlalu banyak menuntut hal-hal yang belum tentu sanggup kita tanggung. Syukuri apa yang sudah ada hari ini. Nikmati prosesnya, meskipun tidak selalu mudah.

Karena bisa jadi, hidup yang kita keluhkan hari ini adalah bagian dari proses yang sedang membentuk kita menjadi versi yang lebih kuat di masa depan.